Saturday, March 15, 2014

Kematian Mendadak di Pagi Hari Dipicu Kurangnya Protein Tertentu

Kematian mendadak akibat serangan jantung merupakan momok karena bisa terjadi kapan saja tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Sebuah studi baru menemukan, kekurangan kadar protein tertentu di dalam tubuh seseorang bisa menjadi risiko terbesar kematian mendadak akibat serangan jantung di pagi hari.

Temuan ini dapat dijadikan dasar pengobatan baru yang mengurangi risiko kondisi tersebut, yaitu berhentinya denyut jantung secara mendadak karena ketidakstabilan listrik dalam tubuh. Demikian yang diutarakan para peneliti dalam pertemuan tahunan American Chemical Society di Indianapolis, Amerika Serikat.

"Di AS saja, kematian mendadak karena ketidakstabilan listrik menyebabkan sekitar 325.000 kematian tiap tahun. Tiga dari empat kasus terjadi pada orang berusia 35 hingga 44 tahun," ujar Dr Mukesh Jain, peneliti asal Case Western Reserve University di Cleveland.

Kematian mendadak akibat serangan jantung umumnya terjadi di pagi hari antara jam 6 dan 10 pagi, diikuti dengan serangan yang lebih kecil di waktu petang. Para peneliti sejak dulu meyakini adanya hubungan antara kematian mendadak akibat serangan jantung dengan irama sirkadian tubuh. Irama sirkadian dikenal dengan jam biologis yang meregulasi waktu tidur.

Para peneliti mengindikasikan, protein tertentu, dikenal dengan KLF15, memiliki peran dalam regulasi aktivitas kelistrikan jantung. Kadar protein ini berubah sepanjang hari dan mengatur jantung agar tetap berdenyut dengan normal.

Pada awalnya, para peneliti menemukan kadar KLF15 yang rendah pada pasien gagal jantung. Menggunakan hewan uji, mereka kemudian menemukan tikus dengan kadar KLF15 yang rendah memiliki masalah jantung yang sama seperti pasien kematian mendadak akibat serangan jantung.

Jain mengatakan, pasien dengan kadar KLF15 rendah termasuk dalam kalangan berisiko tinggi mengalami serangan jantung di pagi hari. "Peningkatan kadar protein tersebut mungkin bisa menurunkan angka kejadiannya," ungkapnya.

Saat ini, para peneliti mengatakan mereka sedang mengembangkan obat yang dapat meningkatkan kadar KLF15 dalam tubuh. Meskipun demikian, protein ini kemungkinan tidak hanya mempengaruhi sistem organ jantung, namun juga sistem tubuh lainnya.

Saturday, March 1, 2014

Penanganan Awal Serangan Jantung Maksimal 6 Jam

Banyak pasien serangan jantung yang terlambat ditangani karena ketidaktahuan atau terhambat saat perjalanan menuju rumah sakit. Padahal, pasien serangan jantung wajib mendapat penanganan maksimal 6 jam pasca serangan.

Setiap menit yang berlalu membuat semakin banyak jaringan otot yang kekurangan oksigen sehingga mati. Semakin cepat pasien dibawa ke rumah sakit, semakin banyak yang bisa dilakukan untuk membatasi kerusakan otot jantung.

Menurut penjelasan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Muhammad Zaini, serangan jantung bisa menimbulkan irama jantung abnormal. Irama ini bisa terlalu lambat, cepat, atau tidak beraturan.

" Karena itu bantuan pertama yang diberikan adalah menyelaraskan dulu irama jantungnya," katanya dalam acara Seminar Awam Penyakit Jantung bisa Diobati, yang diadakan RS. Premier Jatinegara pada Minggu (2/6/13).

Zaini mengatakan, penderita akan diberi kejutan listrik (DC Shock) untuk menyelaraskan irama jantung. Aliran listrik dapat menstimulasi otot jantung kembali ke irama normal. Irama yang kembali normal menandakan pasien bisa menjalani pengobatan lebih lanjut.

"Pengobatan ditentukan jumlah otot jantung yang tersisa. Lebih banyak otot jantung yang tersisa menentukan harapan hidup pasien yang lebih tinggi," kata Zaini.

Pada beberapa kasus, pasien bisa diberikan obat-obatan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung, angioplasti, atau tindakan bedah untuk mengatasi penyempitan arteri koroner.

Saturday, February 15, 2014

Adakah Pertolongan Pertama untuk Serangan Jantung?

Serangan jantung merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan pertolongan segera. Jangan menunda mencari pertolongan dokter karena dalam situasi ini waktu berpacu dengan kerusakan otot jantung yang bisa berakibat fatal.

Menurut dr.Dicky A.Hanafy, spesialis jantung dan pembuluh darah, jika Anda atau ada orang lain yang terkena serangan jantung, tidak ada pertolongan pertama yang benar-benar bisa menolong.

"Alih-alih menolong, hal tersebut justru memperkecil kesempatan sembuh pasien," katanya dalam seminar bertema Penanangan Jantung Akut yang digelar oleh RS.Bunda Jakarta, Kamis (4/7/13).

Dicky mengatakan, semakin cepat mendapat penanangan di rumah sakit, kesempatan sembuh pasien semakin besar. "Tindakan pertama yang bisa menolong, mungkin secepatnya memberi oksigen," kata Dicky.

Oksigen yang langsung diterima pasien diharapkan bisa disalurkan ke jantung sehingga diharapkan bisa membuat otak tetap bekerja. "Otak yang bekerja mengindikasikan saraf yang masih sadar. Hal ini mengindikasikan pasien masih bisa diselamatkan," urainya.

Tindakan lain yang bisa dilakukan adalah memberi pasien kejut listrik melalui alat Automatic Eksternal Defibrilator (AED). Alat ini terdiri atas dua lempeng logam yang bisa dialiri listrik. Alat ini kemudian ditempelkan ke dada pasien untuk merangsang jantung bekerja.

AED adalah perangkat utama untuk penanganan darurat jantung sebelum pasien di bawa ke rumah sakit. Sarana portabel ini biasanya disediakan di ambulan dan beberapa fasilitas publik seperti di bandara. Di negara maju, di mobil polisi pun tersedia alat ini.

"Pertolongan pertama lainnya yang bisa sedikit menolong adalah CPR (cardiopulmonary resuscitation). Tapi tidak sepenuhnya efektif," kata Dicky.

CPR adalah tindakan pertolongan dengan menghentak pembuluh darah yang menuju jantung. Hentakan ini diharapkan bisa sedikit membuka saluran darah yang tersumbat sehingga aliran darah bisa mengalir meski sedikit. Setelah itu pasien bisa dibawa ke rumah sakit.

Namun tindakan CPR minimal membutuhkan waktu 30 menit. Sementara, orang awam tidak mengetahui separah apa serangan jantung yang diderita. Pengetahuan tentang CPR juga tidak dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia.

"Karena itu sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Pembuluh koroner sangat kecil, kalau salah melakukan hentakan dikhawatirkan akan membuat saluran bocor," kata Dicky. Kesalahan hentakan juga dikhawatirkan membuat plak lainnya ikut bocor, sehingga membuat penyakit semakin parah.